jejak bersekolah

email dari staf dikpora


sebenarnya ini bukan bentuk dukungan atas buku yang sudah saya tulis. bukan pula untuk eksistensi, tapi inilah berdikari yang bisa saya lakukan. ini tentang apa seh? ini tentang buku kehidupan di hijau daun. melalui teman, buku itu saya berikan ke kepala dinas pendidikan provinsi di kota. dan setelah menunggu kabar beberapa hari, eh ada email baru masuk. #karena gambar di atas kurang jelas, di bawah saya copas isi email-nya.
 
As.Wr. Wb. Sebelumnya tiang minta maaf menghubungi bapak melalui email. Perkenalkan tiang Mega staf pada Bidang TK dan Dikdas Dinas Dikpora Provinsi NTB yang ditugaskan untuk mengetik Sambutan Kadis Dikpora NTB untuk buku yang bpk tulis. untuk itu kami mohon agar Bapak datang ke Bidang Dikdas untuk mengambil Sambutan yang telah ditandatangani oleh Bapak Kadis sambil membawa 3 buah buku lagi karena Bapak Sekretaris berminat untuk membaca buku Bapak. Terima kasih.

syukurnya saya baca. berarti pekan ini saya mesti turun gunung neh. kalo ninja hatori gini katanya : mendaki gunung // lewati lembah // nanana na na....

semoga setelah ini ada jalan yang lebih baik buat resolusi2 tahun ini. aamiiin.... semangat membara. #ada api menyala-nyala di belakang saya pas nulis ini.
Read More …

mobil bak terbuka melintas di suela

hujan baru selesai membasahi desa bebidas dan sekitarnya saat saya pulang sekolah. dan dalam perjalanan sekolah, mobil bak terbuka melintas di depan saya. mobil2 bak terbuka memang sering terlihat, apalagi saat masa panen datang, truk-truk besar penuh membawa kentang dan banyak hasil panen pertanian lainnya, yang menjadikan tinggal di desa sebagai alternatif pencari kerja.

tapi ada hal lain yang bisa saya nikmati dari sekedar melihat hasil panen bumi itu, yaitu ikut merasakan nikmatnya jagung. hehehe... karena mengajar jauh dari kota, di desa bebidas yang dekat dengan gunung rinjani dan hutan lemor ini kaya dengan hasil holtikultura, seperti jagung. saya tidak perlu membelinya. #loh...

"pak guru, ini jagung dari ibu."

kata seorang murid kepada saya

tanpa meminta, seperti sudah tradisi, kehidupan bertani di sini berarti saling memberi dan menerima. saya memang tidak pernah memberi apa2, selain pengajaran dan sesekali ke rumah mereka berkunjung. dan seperti biasa, di sini harus menerima dan mereka, orang2 yang tinggal di desa, hidup tidak berharap menerima apa2 setelah memberi.

malah kalau menolak, mereka akan sangat marah dan tidak akan memberi lagi. kebiasaan ini sama seperti di masyarakat kecamatan aikmel, salah satu kecamatan yang kaya di kabupaten ini.

mau tidak mau, saya harus menerima dengan senyum lebar.

"terima kasih. salam sama bapaknya ya."

jawab saya lirih.

shofia mengupas jagung

beginilah kehidupan seorang guru dan masyarakat di desa. saling membantu, saling memberi, walau sering penerimaan kembali tidak sesuai harapan, tapi dengan membalasnya walau sebatas salam, tali kekerabatan dan persahabatan semakin erat terjalin.


Read More …